.::Banner::.

14 Nov 2008

Sekolah me-Lingkar

"Sekolah me - Lingkar mungkin hanya ada satu-satunya di dunia. Yah, karena adat tabiatnya yang luar biasa unik. Kepala sekolahnya ditunjuk langsung oleh murid-muridnya, tidak digaji, tapi justru dimak-maki jikakalau sang kepala sekolah terlalu membebankan PR atau tugas yang berat . Kerena beban berat ini, sang kepala sekolah sering absen buat perjalanan dinas yang tak ada hubungannya dengan sekolah pun" (dikutip dari sumber yang tak bisa dipercaya)

Suasana sekolah Lingkar pas dijunjungi mentor spesial dari Aceh, sebuah LSM
yang bergerak di Pendidikan PRB di Aceh. Kalau pas Mentornya 'menarik'
seperti itu, Murid-murid akan menampakkan muka lembut dan penurut
-diambil dari my activityFrom my activity

Sekolah Lingkar adalah sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga yang bernama Lingkar, sebuah LSM yang tumbuh akibat pulung Gempa 27 Mei di Yogyakarta lalu. Gempa memang bencana, tapi di satu sisi mendatangkan banyak lembaga baru yang mengurusi dari bantuan, recovery sampai sekedar numpang nama. Tapi Lingkar memang beda, awalanya hanya sebuah forum relawan yang kini bermufakat menjadi lembaga baru dengan isu yang lebih aktual "Penanganan Resiko Bencana". Yups, karena musibah pun ada asuransinya, bencanapun kini istilahnya di mitigasi, alias diteliti tanda-tandanya, ancaman, resiko sampaidengan antisipasinya. Nun, Lingkar berkutat pada soal-soal tersebut.

Seperti kisah asal muasal Lingkar, pada mulanya murid-murid sekolah Lingkar hanya meliputi relawan-relawan Lingkar dan jumlahnya kalau ditotal bisa mencapai 50 relawan lebih. Tetapi seiring waktu sekolah lingkar menyusut. Mungkin karena ruang kelas yang sempit hanya kira-kira sepetak 4 x 10m maka jumlah muridnya menyusut jadi rata-rata selusinan. Itupun karana kondisi tempat yang memang tak di set up untuk sebuah kelas yang 'wajar' maka amatlah biasa dalam sekolah Lingkar murid bisa duduk sambil selonjor di bawah bangku, sambil duduk di bawah tangga, sambil pijat-pijat an satu sama lain, atau duduk sekursi buat berdua.

Sekolah Lingkar dijalankan secara periodik di Lingkar tiap hari Jum'at, petang. Topik kelas berganti-ganti seusai dengan wilayah isu soal ke-LSM an seperti ; Fasilitasi , Gender, Susitanable Development, Lingkungan Hidup, isu-isu kontekstual kebencanaan, dan sebagainya dan sebagainya.

Uniknya, demi menyambung semangat untuk belajar di sekolah Lingkar, para murid-murid dengan sukaela membawa SPP. SPP-nya bukan sebentuk upeti uang buat kepala sekolah atau buat pengelola sekolah, tapi berwujud makanan ala kadarnya yang disajikan langsung di dalam kelas. Maka SPP di sekolah Lingkara adalah kepanjangan "Sumbangan Pangan dan Panganan". 'Pangan' untuk makanan berat yang dibungkus atau dibawa dalam kardus (yang berarti seseorang relawan atau murid mendapat bingkisan dari daerah 'dampingan') sedangkan panganan berwujud makanan-makanan kecil seperti bakwan, mendoan atau roti bakar (biasanya yang membawa adalah Abang Yosi yang nyambi bakul roti bakar). Hmmm, Kalau SPP melimpah, suasana kelas menjadi lebih meriah. Sudah biasa di dalam sekolah Lingkar murid-muridnya menyimak kelas sambil makan kacang, menyeruput kopi, menyrudug gorengan dan centang perentang bungkusan SPP.

Murid-murid sekolah Lingkar adalah komposisi yang cambur aduk dari relawan, buruh cetak mencetak, penjual Roti sampai ibu-ibu PKK, orang kampung.... Bahkan ada seorang Ibu yang mengikuti kelas sambil menggendong anaknya yang masih kecil dan seorang anak bleseteran Inggris-Suroboyo yang wara-wiri hilir mudik di dalam ruangan kelas Demi mengatasi kekacauan ini konon sedang dipikirkan untuk membuat sekolah Lingkar Yunior, untuk menampung anak-anak kecil generasi sekolah Lingkar berikutnya tersebut.

Dengan murid murid yang campur aduk dari usia sampai latar belakang ini maka materi yang disampaikan pun biasanya dimulai dari paling basic. Jadi, apapun tema pelakarannya, selalu ditambahi dengan '....blablabla for beginer'.

Di sekolah Lingkar, mereka menyebut guru dengan istilah "Mentor" yang didatangkan dari lembaga lain. Kebanyakan dari mereka kebetulan adalah rekan sejawat semasa masih kuliah murid-murid. Jika yang terjadi demikian pastilah 2/3 dari per-kelasan akan berupa Reuni yang mengharu biru....

"Wah, lama ndak ketemu, kamu masih ndak berubah juga"

"Dulu berkecimpung asyik masyuk di sudut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), eh kini ketemu lagi meng-LSM"

Kalau kita ingat murid-murid yang di asuh ibu guru Nur dalam laskar pelanginya andra Hirata itu, kurang lebih sama-sama mengenaskan. Perbedaanya, kalau murid asuhan Ibu Nur dalam Laskar pelangi itu sekolahnya sudah hampir roboh dan kapal pecah dengan genting bocor sana-sini dan sebuah poster roma irama menenteng gitar dengan jubag rumbai-rumbai dan mata mendongak menghamba "Hujan Duit", Nah kalau ruangan sekolah lingkar, adalah sebuah ruangan laiknya medan rapat (sebuah meja besar, billboard, gelas-gelas penuh kopi, asbak dengan puntung rokok, berkas berkas, dan centang perentang poster kampanye advokasi dari soal lingkungan sampai advokasi perempuan). Kesamaanya, murid-murid sekolah lingkar sama-sama "Tengil", dalam artian, mereka suka bikin ulah di dalam kelas. Karena kadangkala sang guru lebih takut di depan murid (murid nya ada yang punya tatto) maka murid-murid bebas melakukan apa saja sembari mengukuti kelas. Ada yang sambil makan minum, merokok, sambil kentut atau yang paling parah mengupil di dalam kelas dan menaruh upil di bawah meja. Beruntung, sang mentor tidak mendapat 'surat kaleng' atau disorak-sorai sampai berlumuran keringat karena dengan sengaja menggunakan kata-kata yang sulit dalam pidato kelas.


Kadangkala kalau sekolah membludag, murid-murid ada yang duduk di bawah-
tangga,sambil berdiri, duduk di lantai, bahkan ada yang sambil tidur.

Apa mau dikata, pada niat punya niat, sekolah Lingkar memang punya tujuan baik. Istilahnya, kalau sekarang ini sebuah LSM harus terus meningkatkan Capacity Building alias Peningkatan Kapasitas, supaya para murid lebih luwes di lapangan, punya inisiatif, bisa meng-LSM, menjadi pekerja sosial, Meng-Lingkar, atau apapun itu namanya dengan baik dan benar. Soalnya, konon kembang-kempisnya sebuah lembaga tergantung bagaimana LSM itu mengelola laporan-laporan dan mengelola isu yang ada sedemikian rupa. Biar bijakana dan selamat.

2 komentar:

lingkar mengatakan...

ayo sekolah..

wens mengatakan...

waktu awal aku mengikuti sekolah lingkar, sangat antusias karena banyak hal baru yang aku dapat


sukses sekolah lingkar