.::Banner::.

7 Sep 2010

The Three cycle of Bombay - Passage to India Part#1

Kunjungan ke India adalah kunjungan pertama kaliku ke luar negeri, kalau tidak dihitung dengan transit di Bandara Internasional Changi Airport, bandara yang membuaku bergidik sebagai seorang udik yang pertama kali menapakkan kakinya di ruangan dengan aroma dingin menyegarkan, lantai  berbentngan karpet bersih seperti masjid, etalase-etalase yang penuh dengan barang-barang hi-tech sampai minuman dengan botol2 cantik macam Chivas regal, neon-neon dengan ikon-ikon dan tulisan penunjuk arah, lorong kereta skytrain yang mengingatkanku pada game Half Life, travalator yang mempercepat langkahmu menjadi 3 atau 4 kali lipat dan aneka rupa wajah orang yang bergegas.

P1020689

Aku sempat mencoba skytrain yang mengingatkanku pada game Half life itu, mengantarku pada terminal 3, menuju penerbangan berikutnya di Chenai International airport India. Disini, aku sempat salah membaca antara Changi airport di Singapura dengan Chenai Airport di India. Karena keduanya memang cukup kontras.

Menuju bandara Chenai dari bandara Changi adalah penerbangan sekitar 4 jam dengan Jet Airways yang kuisi dengan menonton film di layar kursi, berganti membaca-baca informasi, mendengarkan musik dan mencoba tidur memejamkan mata, mencoba melawan telinga yang pekak seperti mau pecah.Di jendela yang terlihat hanya lapisan awan, seperti pulau-pulau kapuk yang melayang-layang.

Bandara Chenai, kalau boleh kubilang, lebih mirip terminal bis kota di kotaku, hanya lebih besar beberapa kali lipat. Aku dan teman-teman di Indonesia disambut sebuah relief warna-warni bergambar berukuran 2 x 3 meter di lobby masuk bergambar krisna membawa kereta bertuliskan; ‘ seek to perform your duty but lay not claim to its fruits’, ‘mencoba melakukan tugasmu tetapi menempatkan diri tidak untuk memiliki hasilnya’, selebihnya anda akan disambut aroma yang menyeruak perpaduan antara parfum ‘sinyongnyong’ bercampur dengan keringat yang keluar dari metabolisme pencernaan makanan yang banyak mengandung rempah-rempah. Seorang temanku, Mona berkali-kali mengucapkan kata ‘busyet’ sambil geleng-geleng kepala tidak mirip gelengan kepala orang India diikuti kalimat deskriptif bahwa bandara ini mengingatkannya pada bandara di kampung halamannya dengan penerbangan komersiil dengan fasilitas yang serba manual.

Kejutan selanjutnya adalah bandara Bangalore, yakni 1 jam saja penerbangan dari bandara Chenai. Bandara Bangalore atau Bangaluru kalau tak salah memang baru dibangun, seiring Bangalore menggeliat menjadi kota lembah Silikon pusat para IT-IT India yang terkenal dan perusahan-perusahaan produsen software kelas dunia. Bandara Bangalore jauh mentereng dari bandara Changi, sebuah kontras yang membuat mulut Edri, teman satu komplotan dari Indonesia mengeluarkan prakata sambutan di Lobby bandara Bangalore;

“Nah, ini nih bedanya dengan negeri kita. India tuh jujur, jadi kita diperlihatkan juga yang jelek-jelek, kayak di Chenai itu, ndak hanya yang bagus2 saja yang diperlihatkan’

 

Bangalore, Kota Bajaj

Kesempatan pertama naik Bajaj adalah hari ke 3 diriku menginjakkan kakiku di Bangalore India dan menghirup udara bangalore yang penuh aroma rempah-rempah. Bajaj yang kutemui disini adalah bajaj berbahan bakar gas, sehingga pengendara tidak dimabuk uap oli dan menghitam jelaga setelah keluar dari kotak besi berukuran 1 x 1 meter saja itu. Dari sekitar 5 kali mengendarai bajaj, setidaknya kutemui 3 jenis klasifikasi supir Bajaj.

P1020018

(deretan bajaj menunggu penumpang di Bangalore, meningatkanku pada deretan becak menunggu penumpang di protokol malioboro)

Supir Bajaj pertama tak banyak omong dalam perjalanan. Sekali deal 200 rupe untuk perjalanan antara pinggiran kota sampai di MG road (Mahatma Gandi Road) pusat kota bangalore. Sang pilot bajaj mengendarai bajaj seperti tak punya penumpang saja, berkelit sana, berkelit sini melewati hiruk pikuk jalan. Baru kami sadari banyak kendaraan motor roda empat yang tidak mempunyai spion sebelah kiri. Premis kami tentang spion itu ; 1) Spion kiri banyak yang patah karena disambet/menyambet kendaraan dari samping, 2) Spion kiri lebih mahal di pasar ‘klitikan/barang bekas’ sehingga banyak maling spion yang lebih mengincarnya, 3) Para pengendara mobil di India punya kelebihan otak kiri yang yang membuat instingnya luar biasa bekerja tanpa perlu bantuan indera mata

Sopir Bajaj kedua, lebih banyak omong, bahkan terlalu banyak bertanya. Sekali menjawab 1 topik pertanyaan, maka dia akan mencerca dengan 3 atau lima lebih topik pertanyaan selanjutnya. Entah di paham atau tidak, suka atau tidak, kepalanya akan bergeleng-geleng. Sang pilot bajaj tipe ini perlu keahlian ‘listening’ atau pendengaran tingkat tinggi dari kami. Apalagi dengan terganggu oleh gemeretak mesin bajaj dan getaran seluruh tubuh bajaj itu membuat bahasa Inggris logat India yang diucapkan oleh pilot bajaj itu hanya sepatah-patah bisa kutangkap.

P1020543

(Argo meter Bajaj, konon juga bisa mengukur seberapa tinggi kadar senyum seseorang)

Bajaj India mempunyai Argo meter macam taksi di Jakarta pada bagian kabin. Kapasitas penumpang adalah 3 orang di tempat penumpang dan 1 sopir, meskipun pada prakteknya overloaded adalah hal biasa dengan 4 penumpang dibelakang dan buntalan-buntalan barang-barang. Tetapi ajaibnya, seperti pernah kulihat bajaj yang ditumpangi 5 orang anak pinak anggota keluarga plus barang-barang bawaan, kendaraan roda tiga ini tetap bisa berjalan dengan stabil. Sang sopir dengan lihainya bisa meliuk-liuk sambil menghidupkan klakson berkali-kali dan menyelusup diantara celah-celah  kepadatan kendaraan.

P1020192

(Auto gas, lebih ramah lingkungan dan tidak membuat penumpang mabuk uap oli)

Sopir bajaj tipe ketiga, adalah yang kami takuti dan bersyukur hanya sekali kami temui. Sopir bajaj yang berlagak sopan, dengan bahasa inggris pas-pasan dan geleng-geleng (entah tau entah tidak)  menjawab mengetahui lokasi yang akan kami tuju.

‘Yes, I know- I know, bangalor palace, bangalore palace, 250 rupees’

Pilot bajaj tipe ini kami temui saat kami ingin melancong melihat Bangalore palace setelah diiming – imingi foto narsis teman satu komplotan yang telah terlebih dulu datang kesana. Terpaksa 250 rupee kami ambil mengingat kami rombongan berempat, jumlah yang nanggung untuk menyewa 2 bajaj.

Pilot bajaj hanya diam saja sepanjang jalan, melewati lorong-lorong kota bangalore, setidaknya 3 hari kami berada di kota bangalore kami mulai curiga karena sepertinya kami hanya berputar-putar saja pada tengah kota. 30 menit berlalu, bahkan melewati jalan tikus menghindari kemacetan.

Bajaj berhenti di depan sebuah tempat hiburan, bertuliskan ‘sea world’, dengan sebuah komidi putar menyeruak diatasnya. Kami telah ditipu.

“Ya… bangalore palace” Pilot bajaj geleng2 kepala.

Maka kamipun sepakat tidak jadi memberikannya tambahan tips 30 rupe, keluar dari tubuh bajaj dengan muka sewot dan celingak celinguk mencari dimana tempat bertanya lokasi bangalore palace.

“Oooo, bangalorrrr pelec…. it stilll pery par prom hir” kata penjaga tiket sea world sambil geleng-geleng kepala lagi.

 

Pilot bajaj terkhir, tipe paling baik yang kami temui. Setelah insiden penipuan pilot bajaj tadi, kami lantas lebih selektif memilih supir bajaj berikutnya. Dengan perundingan alot, setidaknya 5 kali sopir bajaj tak lolos seleksi ketat kami, sampai tawaran teakhir pada seorang pria India.

“Ayem Muslim, Bangalorr pelec, yes I knoww welll bangalor pelec.”lagi-lagi pria hindia berkumis ini menggeleng-gelengkan kepala.

Sepertinya wajahnya santun, begitu opini subyektifku dan mbak Susi yang memakai jilbab. Meski masih memendam was-was akhirnya kami berempat meringsek ke tubuh bajaj yang memang menghantarkan kami ke Bangalore Palace.

Tak hanya sampai disitu, supir bajaj ini menemani kami masuk di Bangalore Palace, menghantarkan kami ke Gedung Mahkamah tingginya kota Bangalor dan gedung DPRD kota bangalore. Lalu masih ditambah menghantarkan ke kantor pos, toko ‘Indian Store’ gudang kain dan busana  yang lumayan murah dan terakhir kami berpisah di perempatan MG Road. Sopir baik hati ini memang sempat meminta kenang-kenangan dari kami.

“If therrr sopenir promm Indonesia?”

Selamat tinggal Farooq, semoga kapan2 kita bertemu lagi.

P1020544

(kalau datang ke bangalore lagi, silakan kontak saya, Farooq 9900495254)

 

5 komentar:

Dr. Ruben Z. Martinez mengatakan...

Very nice essay, i still have to use my translator to get the exact meaning, but I find the language interesting and picturesque. Baik

obrolansenja mengatakan...

aaah spicy story my friend... it's good to know how much you enjoy real bajaj of bangalore! *sambil geleng-geleng

nona senja mengatakan...

sempat ke brigade road sama commercial street juga donk mas :D

Anonim mengatakan...

390743

Anonim mengatakan...

Hey - I am definitely delighted to find this. great job!