Kira-kira persis di bangunan Warnet itu, dua puluh tahun yang lampau adalah hamparan tanah rerimbun pohon pisang, sebuah pohon mangga dan sebuah pohon jambu persis di tengah-tengah. Dan, di pohon jambu itu yang bentuknya berliuk-liuk dengan cabang-cabang tebal seperti otot-otot raksasa biasa bertengger, kami anak-anak kampung, bergelantungan, memetiki buah jambu yang baru pentil-pentil dan merencanakan ‘apa permainan hari itu’. Sepertinya pun, buah jambu di halaman itu tak pernah berhenti berbuah saban musim.
“Main damparan” (Damparan adalah lomba adu batu yang dilempar dari jarak terentu)
“Piye nak nekeran” (Nekeran alias gundu adalah permainan yang bakal tak bahas kali ini)
-----
Gundu atau kelereng adalah permainan menyakitkan. Aturannya dalam sebidang tanah di halaman rumah kawanku yang memiliki dua saudara, kakak beradik, satu hitam berperawakan gempal dan yang satu berperawakan kurus, adalah membuat gambar kotak persegi di atas tanah tersebut. Kira-kira ukurannya setengah meter kali satu meter. Lantas pada tengah-tengah kotak persegi tersebut, dibuat cekungan kira-kira seukuran bola kasti (bola yang biasa untuk main tenes) dengan cara dikeruk atau menekan dengan berdiri dengan salah satu telapak kaki lantas berputar sampai terbentuk ceruk tanah bulat sempurna. Lalu berjarak kira-kira sepuluh langkah kaki dari kotak itu, dibuat garis tempat para pemain gundu atau kelereng memulai melemparkan gundu, tanda permainan bisa dimulai.
Aturan selanjutnya mana gundu yang paling mendekati cerukan sebagai pusat permainan, dialah pemain gundu yang akan memulai tembakan pertama. Tembakan gundu diarahkan kepada gundu yang lain sebagai pesaing. Tugasnya adalah mencoba memasukkan gundu ke dalam ceruk. Siapa yang berhasil masuk ceruk, maka ia berhak meninggalkan permainan dan menunggu untuk memberikan hukuman bagi siapa saja pemain terakhir yang tak bisa memasukkan gundu ke delam ceruk sebagai pusat permainan. Masing-masing pemain mendapatkan satu kali kesempatan tembakan bergiliran dan bisa berstrategi dengan menembak gundu lawan guna menjauhkannya dari pusat ceruk.
Terakhir, sesi hukuman adalah sesi paling kejam dari permainan ini. Si kalah harus meletakkan kedua telapak kanan di atas ceruk dengan punggung telapak tangan mengadap ke atas. Lantas para pemenang akan melemparkan sejumlah gundu seseuai urutan pemenang dari atas si pesakitan (pemain yang kalah).Cara melemparkannya si penghukum akan berdiri persis di atas pesakitan yang jongkok dengan punggung telapak tangan menghadap ke atas dan melemparkan gundu kira-kira persis dari kepala si penghukum. Berurutan pemenang dari yang pertama sampai terakhir jarak dibuat lebih turun sedikit; tembakan dari kepala, dari dada, lantas dari pusar. Beruntung apabila meleset, gundu hanya mengenai tanah atau langsung masuk ke ceruk sebagi pusat permainan, tetapi apabila gundu mengenai persis tulang belulang pungggung telapak tangan, sakitnya alang kepalang. Gundu yang terbuat dari kaca pejal itu bertemu dengan tulang yang keras, sampai berbunyi ‘Thook’
----
Dua puluh tahun yang lalu, halaman yang kini jadi Warnet, itu adalah halaman tempat kami, kira-kira 10an orang anak kampung biasa bertengger di pohon jambu dan merencanakan sesuatu; ‘Apa permainan kali ini”
“Moh ah nak main kelereng lagi”, Kataku sambil memperlihatkan kedua punggung telapak kananku yang masih memar-memar.
Aku sendiri masih heran, mengapa aku selalu kalah dalam setiap kali bermain gundu? Tetapi saban kali permainan itu diadakan aku tetap ingin ikut saja, sambil sesekali berharap bisa membalas kekalahan.
“Ini bukan soal kalah dan menang kawan, ini soal bersenang-senang”
Bah, pikirku, tapi tetap saja kalau tiap kali kalah dan tembakan hukuman tak pernah meleset, tangan akan merah-merah. melebam sampai berhari-hari. Sungguh, kejamnya permainan ini. Dan kulihat wajah temanku yang sering menang seperti tersenyum puas sebagai si eksekutor paling handal.
Oiya, Kalau anda bingung aturan permainan ini, ah baiknya lupakan saja. Jangan dipelajari dan jangan dibudidayakan lagi permainan ini, karena pada intinya di akhir pemainan ini adalah episode eksekusi pemain yang kalah dengan bunyi ‘thok’ tadi yang berarti tangan yang memar sampai berhari-hari. Lupakan dan biarlah ini jadi trauma masa silamku. Huh
bravoo


























Sepi benar dini hari itu dan aku hampir terlupa ketika suara-suara hujan yang lebat turun membentuk kegaduhan diantara genting-genting, tembok-tembok, asbes dan plat-plat seng. Suaranya menggemuruh, tapi anehnya tidak memekakkan telingaku. 


