23 Sep 2008

indigenous 'beauty', indigenous children


Siapakah yang lebih tolol; anak-anak atau kita orang dewasa? Hmm, menghadapi anak-anak adalah pengalaman yang tidak ada habisnya. Sepertinya, sesering apapun kita menghadapi anak-anak tetap saja ada saat dimana kita merasa capek, kering energi, kehabisan otak dan kehabisan kata-kata untuk menjawab berondongan pertanyaan lugu, konyol mereka. Bagi mereka tak ada hal salah, tetapi semuanya soal permainan. Dalam permaian atau game hanya ada menang dan kalah dan menyengankan tidak menyenangkan. (Dikutip dari sumber yang tidak bisa dipercaya)

Alkisah, kami para volunteer LSM dapat kontrak kerja diturunkan di medan juang bernama Desa Salam dan Desa Pengkok, Patuk Gunungkidul. Dua buah desa yang nyempil (kalau dilihat dengan 'Google Earth' memang nampak se-upil) di bukit patuk Gunungkidul. Memang lokasinya belum sampai di Kota wonosari, tetapi jalan menuju dua desa tersebut harus menanjak bukit dan keduanya mengalir sebuah sungai yang melingkar seperti ular dengan air yang tak pernah habis, kadang berwarna kecoklatan kadang berwarna bening, adalah kali Nampu, harus ditempuh dengan jalan licin terjal penuh dengan batu-batu cadas lereng-lereng dengan pohon-pohon dominasi jati, akasia, jambu mete dan ilalalang antah berantah. Desa salam dan desa Pengkok terhitung harus kulalui saban hari, ulang alik dari Jalan Kaliurang (utara Kota Yogyakarta) adalah perjalanan darat dengan kendaraan bermotor berboncengan sambil membawa peralatan tempur standart seorang fasilitator LSM (Gulungan Plano, Spidol Besar, Metaplan, Buku Jurnal, Berkas Absensi, Kamera Digital). Jarak tempuh kurang lebih kalau mengebut mencapai bilangan 1,5 jam dengan rute paling rawan adalah tikungan setelah Piyungan, yakni (kalau ndak salah namanya) "Tikungan bokong semar" dan tikungan -tikungan lain yang harus antri dengan kendaraan-kendaraan truk dilapisi dengan muatan penuh material menggunung (biasanya kalau truk dari gunungkidul membawa batu gamping, hasil bumi, kayu dl). Maka kalau sang driver paling tidah harus punya talenta menyamai paman Rozzie sebelum akhirnya sampai pada sebuah tikungan dengan jalan aspal kecil dan sebuah palang kecil (balai desa Salam) . Tapi jangan merasa lega dulu, karena aspal itu hanya memutari sebagian kecil desa salam dan desa pengkok, selebihnya adalah urat-urat jalan berikut cabang-cabang jalan yang menghunungkan rumah-rumah yang tak beraturan mengikuti Tipografi perbukitan Gunungkidul, adalah ruas jalan yang bercadas mirip sungai yang mengering. Beruntung kalau musim kemarau, tetapi bilamanan musim pennghujan, kami benar-benar mengalami suasan off road, terguncang-guncang, terperosok lumpur dan menuntun motor.

Hmmm, tetapi kami, khususnya aku tiba-tiba bisa merasakan kebahagian tersendiri. Dibalik bukit perbukitan dengan suasana cadas, rumah-rumah kayu dan senyapnya suasana pededaan itu terdapat anak-anak yang lincah. Kalau anda pernah mendengar mitos mengenai cantik-cantiknya gadis Gunungkidul, maka aku tidak menyangkal lagi. Biar saja orang lain mengatakan 'Pedopilia', tetapi yah, apa mau dikata mata sudah terlanjur menangkap barang-barang ranum nyaman lentik-lentik molek-molek dan sliwar sliwer membuat 'darah muda' ala bang roma irama pun meluap-luap. Indigeneus Beuaty Indigenous Children!

Setidaknya terhitung ada sekitar 12 pertemuan dengan anak-anak telah kami tempuh. Kesemuanya dengan teman pendidikan Pengurangan Resiko Bencana. Kami menggunakan metode-metode permaianan seperti yang sudah dilakukan oleh pendidikan lingkungan. Anak-anak diajak ke tanah lapang, bermain-main dengan benda-benda sekeliling sambil diajak berdiskusi. Anak-anak juga diajak membuat sketsa desa mereka, tentu saja sambil mulut klecam-klecem membayangkan kalau saja mereka sesusiaku, langsung aku pinang jadi pacarku. Yah apa mau dikata, tugas tetap jalan tetapi naluri buaya darat kadang sulit dibebat.

13 Agu 2008

Paman datang

Paman adalah panggilan unik. Makna pertama bisa berarti seseorang memanggil anda dengan paman karena ingin mendudukkan anda lebih tua, tetapi tidak menyinggung bahwa secara fisik anda memang 'tua'. Anda akan terlihat lebih muda dengan panggilan 'Paman'. Makna kedua, bisa jadi seseorang yang memanggil anda jauh lebih muda usia dengan anda. Panggilan paman bisa juga untuk menekankan ada jarak usia diantara si penyebut dan si penyandang paman.

Aku telah menjadi paman dalam keluargaku, lingkaran sosial terkecil dalam lingkaran kehidupanku semenjak ada seekor bandit kecil yang tak pernah capek wara-wiri menggangguku, Gading namanya. Gading adalah anak pertama dan cucu laki-laki dari hasil buah cinta kakak laki-lakiku yang nomer dua dengan seorang gadis dari magelang.

Dalam lingkaran yang lebih besar lagi, aku juga menjadi paman bagi banyak keponakan-keponakanku yang lain, yakni anak-anak dari teman-teman satu kuliah. Separoh lebih dari teman seangkatanku, seusiaku, telah mengakhiri masa lajang, terutama para perempuan-perempuannya yang lansung  akan beberapa saat lamanya lenyap dari peredaran (sibuk dengan centang-perentang urusan domestik), hingga hampir tak muncul kabarnya sama sekali, kecuali....

Yah kecuali, satu keponakan lagi telah lahir, oh bahkan ada seoarang kawan yang melahirkan bayi kembar!

Di lingkaran yang lebih besar ini aku merayakan sandangan baruku sebagai paman bagi banyak keponakan. Sandangan ini juga berarti bahwa aku salah satu dari laki-laki dari lingkaran itu, yang masih mempertahankan lajang ku.

Paman jangan di ganggu!

Paman jangan di ganggu dulu, paman baru konsentrasi dulu, paman baru sibuk di depan komputer, cari kenalan! Bah!, keponakan ku satu-satunya telah menyerbu ruanganku. Maka sepersekian jam kemudian, kamarku adalah kapal pecah. Gading menyerbu dengan mainan-mainannya; ada tank yang bisa terbang, pistol-pistolan, Mobil yang bisa berubah jadi robot, ada kereta api-kereta apian yang bagian relnya telah hilang entah kemana, ada topeng 'ultramen gaya', boneka gajah, macan, singa, monyet, rusa, kudanil,....

dor! dor! dor!

Hhhmmm, baiklah, kali ini paman menyerah! takluuuuukkk!

Dunia keponakan tengah menyerang dunia paman. Dunia keponakan menyerbu membabi buta dengan segala peralatan tempurnya!

16 Jul 2008

telinga yang sakit

"masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari” Kata Dewaruci pada Bima.


Malam ini aku membuka percakapan dengan Jakob di Massanger.
'Apa kabar Jake, bagaimana dengan telingamu?"
Sudah dua tahun dia kembali ke Negara Asalnya, Jerman. Konon katanya dia dari dari bagian Jerman timur dan keluarganya punya latar belakang mengalami masa kejayaan komunis. Jake', begitu saya memanggilnya selalu punya keluhan dengan fisiknya selama dia mendekam di Indonesia. Perjumpaan kami tidak genap setahun penuh, karena laiknya pelancong manca yang baru datang pertama kali ke Indonesia, menemukan segalanya adalah pengalaman baru, unik dan eksotik! Yup Inilah Indonesia. Tapi bukan Jake namanya (karena pada awalanya aku pikir tipikal, setidaknya anak-anak muda Jerman?) yang selalu 'mengeluh'. Keluhannya itu menyeluruh dari soal 'pelayanan' di Indonesia yang bertele-tele sampai dengan tak ada dokter yang cocok untuk penyakit ini itu.
Ketika pertama kali ia mengeluh soal 'pelayanan' dana beasiswa yang seharusnya didapatnya dari 'kampus' saban bulan yang datangnya selalu terlambat, aku meng'iya'kannya.
"Yup, Jake begitu sih yang namanya birokrasi di Indonesia. Coba berapa duit yang kamu terima? 1, 2jt tiap bulan? Mmm, ada yang dipotong?".

Keluhan selanjutnya, soal kesehatanya. Jake dan kawan-kawan lainnya dari eropa memang mau tak mau harus menyesuaikan iklim tropis yang kejam. Kulit mereka terlalu sensitif pada sengatan matahari, hingga kalau sebentar saja terpanggang, sebentar lagi akan berwarna merah-merah dan mengelupas. Bukan hanya soal sunbleach, tapi juga 'Malaria'. Mereka takut benar dengan nyamuk. ketakutannya bahkan menurutku terlalu berlebihan dengan menyamakan semua nyamuk dengan biang Malaria. Sampai pada titik ini, aku merasa beruntung punya genetis Homojavanensis yang 'kebal'.

Dari fisik sampai ke urusan telinga. Jake mengeluh telinganya tak kunjung sembuh. Sebermula hanya berdengung-dengung, kemudian bengkak, terutama telinga kirinya. Jake sudah ganti dari petugas puskesmas, dokter spesialis telinga sampai rumah sakit. Sudah ada 2 dokter spesialis telinga yang di datanginya, juga 3 rumah sakit dari betesda, Medical center sampai dengan Panti Rapih. Dari deretan dokter sebelumnya Ia banyak di berikan pil antibiotik.
Jake sangat berhati-hati pada pil antibiotik. Saat pil-pil itu sudah ada di tangannya, ia menelusur kandungannya di Internet. Sehingga ia sampai punya asumsi dokter-dokter itu memanfaatkannya. Pil-pil antibiotik sama saja dengan menciptakan ketergantungan.
"Yah, Jake! Kalau yang sakit telingaku, cukup puskesmas saja! 2000 rupiah! dan Pil yang diberikan selalu sama, yellow one, one one, pink one. Pil kecil-kecil, lebih kecil dari kancing baju! katanya sih vitamin!"
Jake yang bertubuh bongsor, hampir 1/2 kali ukuran tubuhku, meski 3 th lebiha muda dariku memang tak mempan pil-pil buatan Indonesia. Saya merasa kasihan pada titik ini, sampai suatu ketika saat ia demam, sakit sendirian meringkuk pada kamarnya yang bertutupkan kelambu (untuk mencegah masuknya mosquito, itupun masih ditambah ia menyulut baygon elektrik), aku membawakannya 'jambu klutuk' berikut pucuk-pucuk daunya.
"Ini buat mencegah demam berdarah Jake, juga buat obat sakit perutmu'
Entahlah apa hubungannya antara telinga dengan sakit perut, tapi kini jake mengeluh soal perutnya yang mual-mual diare, setelah sakit telinganya agak mereda (akhirnya ia menelan beberapa pil antibiotik). Lambat laun, efek dari antibiotik obat telinganya menimbulkan keluhan lain, yakni ada bentol-bentol merah di sekitar tangannya. Aku makin tambah kasihan padanya karena dari kawan-kawan lainyya hanya Jake yang paling punya banyak keluhan.
'I want to back home!' katanya saat ia meringkuk dalam kelambu.
Dan aku sadar betul Jake benar-benar takut kalau dengung telinganya berakibat fatal sampai dengan Tuli. Yah, Jake punya keinginan menjadi Musisi, dan apa jadinya musisi tanpa indera pendengaran?'
Suatu hari aku bercerita soal 'usus buntu'. Aku bercerita dulu aku adalah anak yang sakit-sakitan. Sebagai bungsu hampir sebulan sekali mengunjungi dokter dan keluar masuk rumah sakit. Konon aku juga lahir prematur sehingga harus dilatih berjalan tegak berbulan-bulan agar kakinya tak memebentuk huruf O atau X. (Aku jadi teringat mendiang ibuku yang sabar). Karena terlalu sering sakit sampai ada dua dokter langgananku. Dokter pertama untuk keluhan ringan dari influenza, batuk sampai diare. Dokter kedua, soerang lakilaki keturunan cina yang berkacamata, kurus dan sedikit beruban, adalah pilihan terakhir saat aku menderita sakit parah. Ia yang bakal merekomendasikan apakah aku opname atau rawat Jalan. Sampai pada usiaku yang sekitar 11, aku menderita Usus Buntu, persis beberapa bulan sebelum Ujian kelulusan SD. Aku berbaring di rumah sakit hampir 1 bulan dan dilanjut rawat jalan di rumah. Peristiwa itulah yang membuatku kapok sakit. Alasan utama adalah pada akhirnya aku menyesal, tak sedikit biaya pengobatan yang harus dibayar dari sakitku. Semenjak itu aku kapok sakit!, aku kapok masuk rumah sakit!
'Semenjak itu pula aku ndak pernah sakit Jake, paling cuma masuk angin!' kataku menutup ceritaku untuk Jake.'
Yup, sebenarnya aku hanya ingin bilang, sakit itu juga berasal dari 'pikiran' dan Jake sepertinya menangkap ceritaku.
"You alright! but I'ts relate also to health service and insurance in Indonesia. How terrible there are!'
'Sure, Jake. I'm agree that's why I don't want to be ill. Because it's mean to avoid visiting hospital doctor. A doctor also a drug seller!'
Entahlah, toh akhirnya Jake sembuh, atau sepertinya ia mulai terbiasa dengan gaya hidup Indonesia. Slowly Jake. Some of the problem will dissapeare by appearrance of another problem. Alon-alon waton klakon Jake!

Dan...2 bulan, 3 bulan, akhirnya Jake pun tidak peduli dengan program Darmasiswa yang diikutinya. Ia tidak pernah mengunjungi bangku kuliahnya lagi, tapi untuk soal dana bulanan yang didapatkanya ia tetap mengambilnya. 4, 5 sampai bulan-bulan terakirnya banyak ia banyak ia habiskan untuk melancong ke Bandung, Bali, Semarang bahkan Padang. Kini akhirnya ia merasa beruntung bisa punya visa kunjungan 1 tahun di Indonesia. Sebuah kesempatan yang mahal dan langka.

1 Jul 2008

ADGI

Saban hari sepasang mata kita menangkap berbagai macam centang perentang gambar yang terpampang, dari kemasan rokok, sabun mandi, bedak sampai deodoran semua dikemas dengan warna warni, dengan tulisan-tulisan yang saling bersaing, sahut menyahut; "Sabun Mandi A, menghaluskan kulit, Sabun Mandi B menghaluskan sekaligus meremajan kulit, Obat Salep anu berkhasiat anu, Balsem nyamuk anu mengusir anu dan bla-bla-bla".
Bagi yang tinggal di perkotaan, menyusuri lorong kota, saat berhenti di perempatan, seekor makhluk cantik bernama entah itu 'Dian Sastro, Nirina, Bella Saphira sampai Inul Daratista tengah bertengger di Baliho raksasa, tersenyum manis ke arah kita dan seakan-akan tak ada hubungannya dengan sebuah benda yang kebetulan ikut nangkring disana.
Produk-produk gambar telah menyebar ke mana-mana. Saling memburu dan mengisi ruang-ruang imajinasi kita. Dari semenjak bangun tidur sampai kita tidur lagi, coba hitung berapa kali gambar-gambar fantastis itu muncul di depan mata kita.

24 Jun 2008

Mbah Maryati

Mbah Maryati berjalan tertatih-tatih karena kaki kirinya pincang. Kaki kirinya terpeleset dan jatuh saat mencoba menyelamatkan diri dari gempa 27 mei 2006 kemarin. Saat itu suaminya masih hidup dan tepat saat Syawal tahun itu pula suaminya meninggal. Mbah Maryati kini sendiri, tidak ada laki-laki yang selama 50 tahun lebih menemaninya mereguk teh nasgitel tiap pagi. Tidak ada laki-laki yang dulu dengan gagah memboncengkannya dengan 'sepeda onthel'. Laki-laki tua yang kadangkala masih juga mencerminkan masa kanak, tertawa memperlihatkan gigi-gigi yang telah ompong, menerima omelan-omelannya seperti 'radio transistor' tua yang selalu tak bosan mendendangkan 'uyon-uyon monosuko' dari gelombang AM.
Mbak Maryati terpaksa pindah dari rumah lama, karena rumah induk menjadi kasus hak waris, pindah dari rumah satu anaknya ke anaknya yang lain. Kemudian pada saat rumah anaknya tengah dipugar, Maryati terpaksa pindah ke rumah Cucunya.
Di rumah Cucunya, Mbah Maryati saban hari menyibukkan diri mencuci baju-bajunya yang hanya 3 stel kebaya, 2 lembar batik, 2 lembar kerudung dan satu mekena. Kini ia tak bisa menyiapkan teh hangatnya seorang diri. Menunggu dari salah satu cucunya untuk menghidangkannya, menyiapkan sarapan dan mendengarkan 'cerita-ceritanya' yang jalan berulang-ulang.
Bagiku, Mbah Maryati bukan nama sebenarnya, karena aku lebih akrab memanggilnya 'Simbok'. 'Simbok' yang melahirkan 7 anak pinak yang salah satunya adalah Ibuku. Kadangkala pada wajah letih, penuh dengan kerutan dan helai-helai rambut beruban yang tersisa itu, aku mencoba menerka-nerka bagaimanakah wajah 'simbok' di masa mudanya?
Aku memanggilnya 'simbok', juga karena imej 'simbok' adalah simbol seorang ibu dari ibu. 'Simbok' yang kukenal semenjak aku lahir seperti hampir tak pernah berubah; tubuh yang sudah agak bungkuk, kebaya motif bunga-bunga, kutang dari kain, stagen, bawahan kain batik dan sandal jepit.
'Simbok' terkadang datang dalam mimpi-mimpiku, karena dulu 'simbok' pernah menjadi sosok pencerita sebelum tidurku. 'Simbok' punya banyak stok ceritera dan legenda dari 'timun mas', 'kancil nyolong timun', 'ande-ande lumut' sampai ceritera tentang 'laki-laki' muda yang berjalan kaki dari Anyer sampai Jogja dengan tanpa alas kaki, suaminya sendiri.
"Nini, nini sing mususi, sopo ngerti popok beruk keli... Paman-paman sing ngguyang sapi, sopo ngerti popok beruk keli..."

'Simbok' adalah bayangan masa lalu, tapi juga terkadang ketakutanku di masa depan. Karena, kalau toh aku sampai pada usia tua, setidaknya akan sebijaksana 'simbokkah?

20 Jun 2008

Bencana

Ngomong soal ancaman bencana, aku teringat dengan guru SD ku dulu, Pak Bambang namanya, bertubuh gempal dengan kumis tipis dan rambut yang senantiasa klimis mirip Harmoko (hey dimana sekarang pak Harmoko berada? yuhuiii). Nah, Pak Harmoko, eh Pak Bambang selalu antusias saat memaparkan tentang 'Nusantara' yang diapit dua samudra, dua benua, garis weber dan wallace sampai dengan pertemuan dua sabuk api (sirkum pasifik dan sirkum mediteranian). Sampai pada titik itu, Pak Bambang menyambung soal banyaknya gunung-gunung berapi di Indonesia, mirip bisul, sewaktu-waktu bisa meletus. Semenjak itu aku mulai akrab melihat gunung Merapi di utara Yogya yang saban hari terlihat mengepul-kepul tanpa henti.
Kejadian gempa Bumi 27 Mei di Yogya kemarin adalah pengalaman yang mencekam. Meski seluruh keluarga selamat, tapi bagian belakang rumah dan atap rumah porak poranda. Selama 2 pekan aku hanya berani tidur di emperan rumah dengan tenda 'biru'. Selama dua pekan itu pula gempa-gempa susulan terus menerus muncul berangsur-angsur dan memicu reflek untuk 'mendadak' lari keluar. 'Ini lebih menegangkan dari film die hard 3 ', pikirku saat itu.
Yah, mau tidak mau, telinga kita saban hari juga mendengar soal bencana ini. Panen 'bencana' yang dipetik bencana oleh media massa pun macam-macam, tergantung pada tempatnya, meskipun tidak tergantung pada musim. Dari gempa di Aceh, di padang, gunung meletus, tanah longsor, banjir di Jakarta, banjir di pantura, rob di semarang, kerusuhan di Jakarta, kebakaran hutan di Kalimantan, lumpur lapindo, dan seterusnya. Semuanya muncul bertubi-tubi dan acak seperti rumus 'fraktal'.


3 Jun 2008

das community haus



Rumah itu berada di tengah-tengah kampung di pinggiran kota. Lurus memasuki jalan yang membelah kampung pinggiran kota itu, jalan beraspal kasar dengan permukaannya sudah bopeng-bopeng, di kanan kiri jalan rumah-rumah khas kampung pinggiran kota yang sangat beragam, seakan akan berlomba menunjukkan status; rumah si kaya dibangun bertingkat dengan garasi dan pagar yang tinggi, sedang pada rumah orang-orang kebanyakan adalah rumah-rumah tembok, centang perentang dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.
Tetapi rumah di tengah-tengah kampung itu, kira-kira 300 meter masuk ke lorong jalan gang yang membelah kampung, mempunyai bentuk yang berbeda. Temboknya corat moret warna-warni yang hampit tiap taun berganti warna, yang memiliki rerimbun tanaman pagar 'teh-tehan', pohon jambu klutuk, pohon pelem sampai melati. Sekilas rumah itu adalah dua buah rumah yang berbeda yang dihubungkan dengan lorong berpintu. Memang, dulunya adalah dua rumah berbeda yang dibangun pada waktu yang berbeda pula. Bagian rumah yang lebih besar dulunya joglo semi permanen dengan dinding gedeg kutangan dari anyaman bambu yang kini setelah dijadikan satu turut dibangun tembok, menyatu dengan bangunan sebelahnya yang usianya lebih baru. Bagian rumah yang lebih kecil usianya muda, tetapi konstruksinya hanya dinding yang terlalu banyak campuran gamping, sehingga mudah untuk dilubangi dengan paku.
Nah, di rumah itulah tinggal diriku sendiri, dua kakak laki-laki yang dulu sempat kuliah di ISI, seorang kakak Ipar perempuan , satu keponakan kecil dan dua ekor kucing bernama Paijo dan Bejo. Tentang dua ekor kucing ini, si Bejo kucing berbulu putih dengan sedikit totol-totol hitam tumbuh besar, kupelihara sejak kecil, sebagai satu-satunya pertalian kucing terakhir yang turun temurun induk semang kucing belang bermata sipit. Si bejo punya 2 saudara kembar lain yang satu demi satu mati saat masih kecil. Meskipun kupelihara semenjak kecil, si Bejo punya sifat liar, keluar masuk rumah dengan leluasa, mengobrak-abrik genting, sampai dengan mencuri lauk pauk tetangga. Si bejo yang liar tidak pernah mau dipegang.
Satu kucing lagi, Si Paijo adalah kucing yang sekonyong-konyong ada semenjak gempa 27 mei 2006 kemarin. Sebagai kucing pulung 'gempa', Si Paijo punya perawakan besar, kecoklatan dan sangat pemalas. Saking malasnya, sehingga gampang menemu Si Paijo ini, kalau tidak tidur melingkar di sudut-sudut rumah, paling ia sedang duduk termenung di atas jok motor atau kursi. Jika sudah begitu, walau dikagetkanpun si Paijo cuek saja……
Das Haus adalah ekosistem yang unik
Nama Das communiy haus berarti rumah komunitas, bukan nama yang mengada-ada. Di Das Community haus, selain anak pinak, satu kemenakan kecil dan dua ekor kucing yang hilir mudik itu, ada banyak orang-orang berdatangan, pergi, datang, pergi, lalu datang lagi untuk kembali lagi atau untuk pamit selama-lamanya. Das Community haus, adalah nama yang diberikan seorang Jerman Bernama Jakob yang dalam kurun waktu 6 bulan pernah hilir mudik dan tinggal di rumah ini.
Setelah ibunda meninggal, ayahku yang tinggal dengan istri baru dan keluarga baru, anak-anak baru, masalah-masalah kelaurga baru, dari C1 sampai bayar SPP, dari arisan sampai ronda, dari digerutui mertua sampai digerutui istri yang nagih uang belanja. Lantas sekurun waktu kami anak berpinak, satu ipar, satu kemenakan dan dua ekor kucing ini jadi maklum kalau sang ayah, the godfather yang dulu terkenal galak dan tegas itu, lambat laun jarang inspeksi ke rumah ini.
Dengan begitu Suasana das community haus makin cair, tak ada ‘the god father’, figur partonisme yang galak, kalaupun ada sudah pasrah pada anak-pinak, satu ipar, satu kemenakan dan dua ekor kucing untuk mengelolanya.
Pada hari-hari biasa, kakak iparku jadi ‘the only beutifull women’ di Das Community Haus. Dengan, kompisisi gender yang tak setimbang ini maka bisa dibayangkan bagaimana ekosistem rumah adalah ‘kapal pecah’ dengan bagian-bagiannya lebih banyak menonjolkan hal-hal maskulin, seperti tumpukan-tumpukan baju, tumpukan-tumpukan barang bekas, centang-perentang perkakas, dapur yang penuh dengan perkakas kotor.
Komunitas-komunitas yang pertama muncul adalah 'sanggar bakat anak salam' atau yang disingkat SABANA yang hadir pada sekitaran tahun 1998 sampai 2000. Di dalamnya adalah dua kakakku, teman-teman main yang dulu juga teman sekolah, anak-anak muda dari kampung dan teman-teman dari kampus. Gerombolan kawan-kawan itu masing-masing juga membawa kawan-kawan lain atau pacar yang sengaja di gandeng masuk das community haus. Walhasil, sanggar SABANA ini jadi penuh berjejal dengan anak-anak muda dari berbagai bentuk. SABANA mengalami perpecahan yang sporadis, untuk bahasa halusnya bubar tanpa kejelasan, setelah sukses besar menyelenggarakan Lomba Lukis 'Jogja Ceria'.

Ide terus bergulir dalam Das Commuity haus, seperti halnya usaha-usaha mandiri 'jatuh bangun ' diusahakan oleh dua orang kakakku dan teman-temannya. Deretan usaha itu dari tukang sablonase kaos, spanduk, stiker sampai bandana beralih ke tukang buat reklame. Kemudian beralih lagi membuat aneka kerajinan dari kayu dengan yang pernah mencatat sukses memperkerjakan ibu-ibu dan perempuan di kampung ponggalan dengan upah Rp. 125 rupiah tiap merakit souvenir pulpen kayu. Sayang ekspor 'pulpen kayu' yang konon ke Norwegia itu dengan omset pertama sampai bilangan 7 jutaan gagal di tengah pengiriman karena kena 'ngengat'.
Gagal dengan usaha kerajinan pertama, berpindah nama dari Sanggar Sabana menjadi Studio Bebekku. Nama ini asal comot dari usaha ternak bebek 3 ekor yang hanya menghasilkan telur-telur yang selalu jadi rebutan buat sarapan. 3 ekor bebek itupun setelah berbulan-bulan lamanya berakhir tragis jadi 'potong bebek' di 'bakar' pakai kecap pada pesta ulang tahun dari siapa, sudah tak ingat!
Dengan kibaran nama baru Studio Bebekku, usaha beralih jadi tukang buat tas. Berawal dari seseorang yang 'ndak jelas' kedatangannya yang mempunyai keahlian 'bikin tas' dan memulai 'hidup baru'nya di Das community haus. Usaha tas berkembang pesat, dari mulai memenuhi pesanan personal, tas gunung, tas kantor sampai pesanan tas-tas seminar. Bahkan sampai menambah tenaga tukang jahit yang didatangkan dari bandung, Asep namanya. Usaha ini berakhir dengan perginya sik tukang Jahit dan memilih kontrak usaha sendiri setelah menikah. Lalu, bubar dengan usaha produksi tas, beralih ke usaha cetak fiberglass. Usaha fiberglass ini mencatat sukses dengan membuat berbagai macam souvenir yang kemudian mesti gulung tikar karena gagal produksi membuat helm dari fiberglass. Helm yang kalah harga dengan helm berbahan plastik yang cuma dijual Rp. 25.000 per kepala.


29 Apr 2008

Alit

Karena Van Gogh mengiris telinga kirinya, Leonardo membedah mayat dan sederet eksperimen 'nyleneh', Bob Sick menutupi sekujut tubuhnya dengan Tatto, sampai dengan akhir yang tragis seorang pelukis muda bernama Alit Sembodo yang konon memilih mengakiri hidupnya pada rentang usia yang masih muda, maka lengkaplah sudah menjadi pelukis adalah 'kutukan'. Ini mungkin terlalu ekstrim, tetapi sebagian dari mereka mengamini bahwa menjadi pelukis adalah sebuah perjuangan berat yang melalui berbagai lapis ‘ring’ pertarungan.

Lingkaran pertama, adalah dalam diri sendiri, si individu akan menghadapi pertentangan-pertentangan semisal; benarkah ini sebuah profesi? Pada ring selanjutnya adalah keluarga. Keluarga yang merupakan unit sosial terkecil pada awalnya menjadi ruang untuk basis awal untuk berlindung dalam segenap aspek, baik ekonomi sampai dengan psikologis. Tapi seperti juga yang dialami Alit, pada pertarungan di ring kedua ini, ia akan menghadapi kesulitan tentang ;seberapa relevankah menjadi pelukis sebagai sebuah pekerjaan yang punya prospek kedepan? Apalagi jika dalam ring keluarga itu belum si seniman (pelukis) adalah satu-satunya yang keluar dari tradisi ‘pilihan’ yang sudah turun-temurun. Maka pilihan itu menjadi sangat sulit seperti juga yang dialami seniman muda sang Alit.

Lukisan meskipun itu benda yang muncul dari cipta rasa dan karsa bukan seperti halnya gerabah yang bisa dengan merta diperbanyak lantas dipajang untuk kemudian segera laku menjadi duit. Tetapi, lukisan juga meliputi daya dukung si pelukisnya yang meliputi bagaimana ia bergaul, bergelut, melewati ring demi ring pertarungan, atau bahkan mungkin pertaruhan itu.

Jika ring pertarungan di keluarga itu sudah bisa dilalui, pelukis/seniman akan menghadapi ring yang lebih besar lagi bernama masyarakat. Tergantung dimana lingkungan ia bercokol dan menempatkan diri tetapi masyarakat kebanyakan sudah memiliki label-label yang melekat tentang pelukis/senimant. Bahwa seorang pelukis/seniman adalah orang-orang ‘nyleneh’ berpenampilan eksentrik, rambut gondrong atau gimbal. Bahwa pelukis sibuk dengan imajinasinya sendiri, tak punya kontribusi berarti mengenai ‘bagaimana menurunkan inflasi dan bla-bla-bla…”

Mereka mungkin tak melihat bahwa pelukis-pelukis muda ini, seniman-seniman muda ini, adalah kawan di garis pinggir. Dalam masyarakat yang dinamis yang didalamnya dipenuhi nuansa gerakan sosial, maka pelukis-pelukis muda ini, seperti juga Alit sembodo adalah kawan-kawan yang tak pernah habis-habisnya menjadi energi bagi gerakan sosial.


12 Des 2007

Manusia Pohon


Si manusia pohon....

Hijau adalah tempat bercokolku semenjak keluar dari majalah blank!, sebuah majalah desain grafis yang harus gulung tikar pada edisi 6 thok!




16 Okt 2007

Naik vespa keliling kota sekeluarga



Scooter alias vespa, selain bentuknya yang klasik, nyaris tak pernah berubah dari semenjak edisi perdana pertama sampai keluarannya terkini. Motor asal Italy ini menggunakan mesin tempel di bagian kanan belakang, sehingga bagi pengguna skooter punya kiat-kiat khusus memberlakukannya, misalnya; Memiringkan ke kanan apabila mogok, membawa ban serep untuk jaga-jaga dari ban bocor (Vespa paling dibenci tukang tambal ban karena tingkat kesulitan menambalnya)dan tips-tips lainnya. India yang mempunyai Bollywood untuk meniru langkah Hollywood, sampai-sampai memproduksi 'Bajaj', sejenis motor dengan desain mirip Vespa. Sayang, kedasyatan mesin Bajaj ini telah dikebiri satu-satu, dirombak total kelongsongannya menjadi Bajaj-Bajaj yang sekarang jadi trand mark kendaraan aseli Jakarta. Maka nasib sang Bajaj aseli tak dapat diketemukan lagi dan orang lebih mengenal bajaj sebagai Bajaj yang sekarang.

Sewaktu kecil Bapakku memutuskan untuk membeli vespa dengan alasan kendaraan ini potensial sebagai kendaraan keluarga. Bisa memuat segenap anggota keluarga yang 6 gelintir manusia; Bapak, ibu, dan empat orang kakak-beradik, termasuk aku.
Bapak pegang kendali setir, dengan diapit Ibu yang menggendong aku, kakak perempuan cukup duduk mepet ditengah-tengah, berbagi jok dengan ibu. Sedangkan space longgar antara kemudi dan jok tempat duduk bapaku telah diisi berjejal dua orang kakakku. Bisa terbayangkan bagaimana tingkat kesulitan Bapakku, mengontrol kemudi sambil berteriak-teriak agar kedua kakaku berhenti bertingkah dan bertengkar.
Sementera aku sebagai si bungsu dengan nyaman menikmati gendongan Ibunda (Sebagai bungsu, aku digendong Ibunda sampai hampir berumur 7th!). Ibunda punya tugas tambahan sebagai co-pilot, melambai-lambaikan tangan saat belok, memberi instruksi berhenti pada lampu lalu lintas dan ikut mengerem mendadak dengan kedua kaki saat berhenti. Pada bagasi telah penuh berisi centang perentang, alat ganti popok, bekal-bekal makanan dan tremos minuman. Walhasil sang vespa berjalan terseok-seok mirip karapan Gipsy, penuh rumbai-rumbai, teriak-teriak penumpang dan aneka buntalan-buntalan bawaan. Potret seperti ini masih terekam dalam benakku, terutama saat mudik lebaran ke kampung halaman dan acara tamasya keluarga.

Si Vespa Keluarga hanya bertahan kira-kira sampai aku kelas 6 SD, dengan lambat laun selain mesin sudah uzur dengan asap knalpot yang sudah mirip kakek-kakek perokok klobot, juga karena daya muat vespa stagnat berbanding kali lipat pertumbuhan badan para penumpang. Satu demi satu, dimulai dari kakak terbesar ke paling kecil sudah tidak bisa menaiki vespa bersama-sama, sampai pada akhir riwayat tugas, aku kini menempati posisi istimewa, duduk di rongga vespa depan Sang Bapak yang galak. Posisi ini selalu kunikmati, sambil berimajinasi, membayangkan mengemudikan sebuah pesawat antariksa, mirip serial kartun flash gordon, serial kartun silver hawk atau tantangan gobot.... (Dulu film-film fantasi kartun hanya ada di TVRI saban sore)

Si Vespa Keluarga, hilang ditipu orang
Akhir riwayat vespa keluarga memang tragis. Suatu ketika Bapak berniat menjualnya. Yah maklum, kini kami sudah punya kendaraan lain yang baru trend, canggih dan lebih trendy, bernama "astrea grand" yang beli dari kredit (Masih ingat aku, Sistem Kredit baru muncul awal pertama kali). Kami masing-masing sempat foto bergiliran di depan motor baru ini, di samping si Vespa yang mengonggrok, menunggu pemilik baru.
Seseorang misterus, dengan muka necis, yang ngakunya ingin tertarik membeli vespa itu datang berlagak menawar. Ternyata ia seorang 'penipu'. Tidak ingat aku detil peristiwanya tapi intinya vespa itu telah raib ditangan penipu. Saya hanya ingat untuk beberapa hari setelahnya, lamanya orangtuaku sudah sibuk menguber-uber informasi, dari satu orang pintar ke orang pintar lain, sebelum akhirnya vespa kami diketemukan. Kondisi vespa waktu diketemukan memang masih utuh, meski memicu banyak masalah dengan aparat, karena 'cara' pencarian orangtuaku yang menempuh jalur dan alibi yang "irrasionil". Akhirnya sang vespa keluarga telah resmi berpindah ke tangan orang.....

Masa SMU yang indah dan sebuah Lambreta
Sampai penghujung kelas dua, berbeda dengan teman -teman sesekolah lain, aku cukup menikmati berangkat sekolah dengan bus kota atau dengan pit onthel. Bahkan kadang kadangkala memilih jalan kaki sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan Kotagede-Yogyakarta, yang aspalnya selalu dipenuhi ruap tahi kuda (Jalan aspal kotagede memang menjadi salah satu jalur tetap kereta andong).
Kelas 3 SMU aku mendapatkan kendaraan bermotor pertamaku, sebuah Lambreta. Motor Lambreta, termasuk motor tua, yang sepengetahuanku merupakan generasi pertama sebelum vespa. Pada prinsipnya bentuknya sama, sudah seperti vespa umumnya hanya masih kaku dengan shape body lebih mirip box biskuit, kotak-kotak. Bentuk jok masih menyatu lurus datar, belum dibelah menjadi dua jok antara pengemudi dan penumpang. Lambreta ini kubeli dengan harga 125 ribu saja, hasil dari sedikit kerja rodi dan menodong bapakku. Surat-suratnya masih komplit meski angka plat nomer telah telat.
Suatu ketika, pas malam minggu teman-teman SMU itu mengajak konvoi keliling kota, sambil memboncengkan cewek-cewek. Aku dengan Lambreta-ku sebagai motor vintage yang hanya bisa melaju sampai batas 40km perjam itu, harus puas tertinggal jauh, dan mesti berteriak-teriak kencang agar menunggu kami. Tak terasa konvoi sudah menembus jauh sampai batas luar kota dan berencana meneruskan ke rute Jalan kaliurang yang rutenya merangkak naik. Si Lambreta mendadak mogok dan mengeluarkan banyak asap, sampai akhirnya Si Lambreta harus ditarik pulang dengan tali. Nasib si Lambreta selepas itu tak kunjung membaik. Si Lambreta tak pernah selesai diperbaiiki dan berakhir menjadi pajangan di teras rumah, dimodifikasi jadi duduk, ditorehi aneka rupa cat dan sebuah grafiti;"Angkutan barang pindah kos, trayek brosot jogja".

My little bastard



Kehadirannya diluar dugaan kami sekeluarga. Empat orang kakak adik, kini bertambah dengan satu kakak ipar dan seekor keponakan lucu.

27 Agu 2007

Mbah Kakung



Tulisan ini berkorelasi dengan tulisan lain di :
http://alexcandra.blogspot.com/2006/10/mbah-kakung.html

Aku memanggilnya mbah Kung atau singkatan dari mbah Kakung. Aku memang tidak tahu nama mbah Kung sebenarnya sampai dengan aku melihat nama yang tertera di tonggak nisan kuburan Mbah Kung. Atmo Sumarto namanya dan Ia telah meninggal dunia setahun yang lalu pas 5 hari setelah Idul Fitri, meninggalkan Mbah putri yang telah mendampinginya dari usia 17 tahun dan anak-anak, cucu sampai cicit.
Mbah kung bekas tentara KNIL. Ia pernah dikirim oleh misi serangan fajar Jogja kembali ,Gayang Malaysia sampai dengan Perebutan Irian Barat. Pas waktu konflik dakan angkatan darat meletus, Kakekku berserta kesatuannya pecah cerai berai. Mbah Kung menghilang,bersembunyi karena gayang komunis.
Mbah kung pengagum sukarno, di rumahnya ia pajang foto sukarno. Katanya; sukarno itu kharismatik. belum selesai......

2 Agu 2007

Juzz Vaganza


Ini adalah warung juzz vaganza, tempat melepas dahaga, sehat dan menyegarkan. Nah, warung ini memang strategis karena letaknya yang membelah pematang areal kos-kosan di utara bilangan kampus Gadjah mada. Menyusurilah ke jalan konblok belakang kampus gadjah mada, lalu berbeloklah ke utara, dan cari jalan yang hanya dilapisi semen sudah berlubang-lubang. Pada kanan kiri jalan bertengger warung-warung makan, fotocopy, tempat loundry, rental komputer, dll, pokoknya apa saja yang berhubugan dengan kebutuhan anak-anak kos pasti ada disana. Letakknya kira-kira 50 meteran sebelah kanan jalan. Warung juss vaganza tak pernah absen, kecuali hari-ahri khusus dan buka pagi sekitar jam 8an sampai sore menjelang malam kecuali stok habis. Buah-buahan yang tersedia lumayan komplit, meski terkadang tergantung musim. Dua buah mesin blender siap melumat potongan-potongan buah-buahan yang anda minta. Anda juga menambah campuran susu atau krim mocca kedalamnya, tergantung selera. Nah, mengenai selera, saya sering bereksperimen dengan beberapa campuran buah-buahan; tomat dengan wortel, mangga dengan wortel, anggur dengan alpukat, atau tambah sedikit sawo dan jeruk nipis. Saya punya menu favorit campuran mangga dengan wortel, karena rasa asam dan manis yang imbang.
Persis di samping warung juzz vagansa ini ada warung penjual gorengan. Si penjual tak henti-henti merakit mendoan, tahu susur, pisang goreng sampai bakwa di wajan dan penggorengan dengan dibantu anak gadisnya yang 'maaf', agak ngak normal.
Kebetulan pula mayoritas konsumen juzz vaganza adalah mahasiswi-mahasiswi yang setia ikut ngantri.
Si penjual, laki-laki paruh baya dengan ditemani asistennya, sang istrinya sendiri, dengan cekatan melayani para konsumen. Bapak penjual itu sepertinya sudah hapal siapa-siapa konsumen-konsumen-nya dan campuran apa saja buah-buahan yang diingini. Semua masih dengan bandrol harga yang murah meriah, cukup dengan merogoh kocek 1500 rupiah saja, pukul rata, anda akan mendapatkan menu juzz vaganza, bisa ditaruh di kantong plastik atau dalam gelas besar. Anda bisa menaruh potongan-potongan es juga menurut selera kedalamanya.
Bapak penjual juzz vaganza ini selalu ramah dengan konsumennya meski pembeli berdesakan ngantri. Nah yang jadi pelampiasan kemarahan justru asistennya yang setia, sang istri yang siap menangkap segenap umpan balik omelan sang penjual juzz Baganza; "Cepet thoo buneeee, qi mbak ini..,mbak itu... keburu nunggu.....! Jadinya sang Penjual juzz vaganza berkumis, bisa berubah roman dengan cepat dari tersenyum manis pada mbak-mbak mahasiswi itu, lantas berubah mendelik, menggerutu pada asisten setiannya itu.
Saya tahu persis banyak warung juzz tertentu menggunakan gula sintetis jikakalau kepala saya terasa pening setelah meminumnya. Jadi saya tahu kalau warung juzz vaganza favoritku ini menggunakan 100% gula aseli. Hingga membuat rasa dan bau manisnya yang legit mengundang kawanan tawon pada berterbangan di sekelilingnya.
Saya sering bawa kawan-kawan ke tempat ini. Bahkan seorang kawan dari Magetan, dulunya pernah kuliah di Yogya sampai keranjingan dan menemukan kode khusus buat kesana ;"Mabuk juzz!" Si penjual hapal betul dengan anak dari kampung magetan ini karena plat nomer AE, dan pesanan dua gelas juzz besar!
Lebih nikmat memang minum ditempat, seperti kebiasaanku, sambil menunggu antrian kita bisa mencomot "gorengan" hangat-hangat di belakang kita sambil mengamati lalu-lalang jalan di depan juzz vagansa itu yang ramai oleh mahasiswa-mahasiswi yang hilir mudik dari kampus ke tempat kos. Kalau sore akan lebih ramai lagi terutama oleh konsumen loyal macam mahasiswi-mahasiswi yang baru pulang dari jogging. Jadi bagi laki-laki normal, selain juzz yang menyegarkan, gorengan yang panas-panas gurih, tentulah menu cuci mata. Kalau saya pas beruntung kita bisa ketemu dengan kawan lama sesama konsumen juzz vaganza dan berjumpa dengan orang-orang tua penghuni tetap kampus UGM, lalu mengundangnya nimbrung minum juzzz vaganza.... yoook mampir yook